Ini bukan
kisah Kenshin Himura yang lebih dikenal dengan Batosai si Pembantai. Ini juga
bukan kisah Herkules yang entah ada atau hanya fiktif belaka. Tapi ini tentang
dunia manusia nyata, yang ada di hadapan kita. Siapakah manusia-manusia langit
itu? Kenshin kah? Hercules kah? Atau mungkin sosok yang lain?
Kalau kita sering mengamati dan merenungi
keberadaan kita di dunia ini, maka kita akan yakin seyakin-yakinnya bahwa kita
ini manusia. Betul nggak? Nah, sebagai manusia, Allah telah memberikan kepada setiap
kita potensi-potensi hidup. Yang mana dengan potensi hidup inilah sebenarnya
kita berbuat. Dengan kata lain, potensi-potensi inilah yang mendorong kita
untuk melakukan berbagai aktivitas. Mulai dari tidur sampai tidur lagi. Nggak
percaya? Kita tanya “Mbahnya”.
Dalam diri
kita ini ada yang namanya kebutuhan hidup. Salah satu penampakkan dari adanya
potensi yang satu ini adalah adanya rasa lapar, haus dan yang sejenisnya. Tentu
bila makhluk yang satu ini hadir, kita perlu penuhi. Kalau nggak bisa
‘wassalam’ neh hidup. Contohnya saja, saat lapar, kan kira pasti pinngin minum.
Begitu juga saat lapar menjelang, makan menjadi solusinya. Potensi yang lain
adalah naluri. Bedanya dengan yang pertama, saat naluri ini muncul dan ingin
dipenuhi, bila tidak, nggak sampai menimbulkan ‘berakhirnya’ hidup kita.
Naluri-naluri ini adalah naluri beragama, naluri mempertahankan diri dan naluri
melestarikan keturunan.
Masih
nggak percaya? Wah kebangetan deh! Kita tengok salah satu naluri. Misalnya saja
naluri melestarikan keturunan. Dan naluri ini yang paling banyak digandrungi.
Penampakkan dari naluri ini salah satunya adalah adanya rasa mencintai lawan
jenis. ‘Love story’ lah. Saat dia datang merambah hati, maka hati mulai nggak
tenang, gelisah pun melanda insan yang sedang dilanda asmara. Bila nggak
dipenuhi? Wah nggak bakalan deh kamu ‘tamat riwayat’. Paling-paling rasa resah
dan gelisah terus melanda. Tidak lebih. But, sebenarnya kegelisahan ini bisa
dihindari dengan melakukan aktivitas yang dapat melupakan masalah ini. Tul
nggak?
Lantas
hubungannya dengan judul tulisan ini? Sabar sobat! Seperti yang telah kami
sampaikan di awal bahwa naluri dan kebutuhan hidup ini memerlukan adanya
pemenuhan. Itu pasti. Akan tetapi yang memberdakan antara seseorang dengan yang
lain adalah, dengan apa dia memenuhi potensi hidupnya tadi. Sebagai contoh,
saat lapar datang. Yang membedakan adalah apa yang dia makan, bukan rasa lapar
itu sendiri. Inilah yang menjadi pokok bahasan judul ini.
“Manusia-manusia
langit” adalah mereka yang menjadikan potensi yang dia miliki selalu terikat
dengan aturan Allah. Kebutuhan hidupnya hanya dia penuhi dengan sesuatu yang
sesuai dengan aturan Allah. Begitu juga dengan naluri. Seorang manusia langit
tidak akan menyalurkan nalurinya dengan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran
Rabbnya. Karena mereka memahami bahwa hidup ini bukan hanya sekedar memenuhi
kebutuhan hidup dan naluri saja. Lebih dari itu manusia-manusia langit memahami
bahwa hidup adalah untuk hidup kembali. Hidup bukan tujuan, tapi tahap menuju
kehidupan lain yang abadi. Makanya dia senantiasa menjadikan hidupnya selalu
sesuai dengan ajaran Allah, Sang Pencipta.
Manusia-manusia
langit bukanlah ilusi. Dia bukan juga hayalan imajinasi, yang tidak bisa
diwujudkan. Manusia-manusia langit juga seperti kita. Mereka seperti kita yang perlu
makan saat lapar; perlu minum kalau haus. Mereka juga sama-sama seperti kita
yang takut akan murkaNya, yang punya naluri mempertahankan diri, yang mencintai
kekasihnya saat naluri ‘nau (melestarikan keturunan) hadir. Mereka sama seperti
kita. Bedanya? Mereka adalah sosok istimewa karena selalu membaktikan dirinya
hanya untuk mendapatkan ridlo Allah. Nggak seperti kita yang sering bermaksiat
dengan melanggar aturanNya, yang sering lalai dalam ibadah kepadaNya.
Manusia-manusia
langit nggak pernah bersikap ibarat ‘bunglon’. Saat berhubungan dengan Allah,
dia membawa Islam. Tapi saat bergaul di masyarakat dia menanggalkan Islam. Dia
tidak pernah memisahkan kehidupannya, walau sebentar, dari aturan Allah.
Manusia-manusia langit selalu menyandarkan akitivitasnya dengan perintah dan
larangan Allah.
Mereka
nggak seperti kita yang saat diseru untuk duduk terpisah saat kuliah berkelit dengan
alasan kalau ruang kelas bukanlah masjid yang harus ada hijab (pembatas). Nggak
seperti kita, yang saat diberitahukan bahwa pacaran itu dilarang dalam Islam,
berdalih nggak apa-apa selama masih dalam batas-batas yang wajar. Walau nggak
jelas juga batas-batas tersebut itu apa dan bagaimana. Apakah batasan yang dia
buat sendiri ataukah batasan yang dibuat oleh Sang Pencipta. Tapi yang jelas
batasanNya itu telah jelas ada di Kitab berisi firman-firmanNya dan juga
melalui sabda-sabda kekasihNya. Tinggal kita mau mencari dan menerapkannya atau
“keukeuh” dengan batasan kita. “Yang penting enaak”. Manusia langit juga adalah
manusia-manusia yang sopan santun baik dalam perkataan, perbuatan dan pakaian.
Mereka menjadikan auratnya sebagai hal yang paling berharga dari dirinya, yang
tidak boleh semua orang bebas melihat apalagi menyentuhnya.
Manusia
langit adalah sosok manusia yang ideal.
Manusia-manusia yang bakal selalu mencintai dan dicintaiNya. Nah, trus
kumaha nich dengan kita?? Ya, pilihan
tinggal kembali kepada kita, apakah kita adalah kita seperti saat ini, atau kita
adalah pemimpi manusia-manusia langit yang akan selalu mimpi. Atau kita adalah
bagian dari manusia-manusia langit tersebut.
Untuk menjadi manusia langit tidak perlu pake kampanye, apalagi pake
“money politic”. Manusia-manusia langit
bukan puitisi tapi....