Jumat, 15 Oktober 2010

Menjadi Manusia - manusia Langit



Ini bukan kisah Kenshin Himura yang lebih dikenal dengan Batosai si Pembantai. Ini juga bukan kisah Herkules yang entah ada atau hanya fiktif belaka. Tapi ini tentang dunia manusia nyata, yang ada di hadapan kita. Siapakah manusia-manusia langit itu? Kenshin kah? Hercules kah? Atau mungkin sosok yang lain?
Kalau kita sering mengamati dan merenungi keberadaan kita di dunia ini, maka kita akan yakin seyakin-yakinnya bahwa kita ini manusia. Betul nggak? Nah, sebagai manusia, Allah telah memberikan kepada setiap kita potensi-potensi hidup. Yang mana dengan potensi hidup inilah sebenarnya kita berbuat. Dengan kata lain, potensi-potensi inilah yang mendorong kita untuk melakukan berbagai aktivitas. Mulai dari tidur sampai tidur lagi. Nggak percaya? Kita tanya “Mbahnya”.
Dalam diri kita ini ada yang namanya kebutuhan hidup. Salah satu penampakkan dari adanya potensi yang satu ini adalah adanya rasa lapar, haus dan yang sejenisnya. Tentu bila makhluk yang satu ini hadir, kita perlu penuhi. Kalau nggak bisa ‘wassalam’ neh hidup. Contohnya saja, saat lapar, kan kira pasti pinngin minum. Begitu juga saat lapar menjelang, makan menjadi solusinya. Potensi yang lain adalah naluri. Bedanya dengan yang pertama, saat naluri ini muncul dan ingin dipenuhi, bila tidak, nggak sampai menimbulkan ‘berakhirnya’ hidup kita. Naluri-naluri ini adalah naluri beragama, naluri mempertahankan diri dan naluri melestarikan keturunan.
Masih nggak percaya? Wah kebangetan deh! Kita tengok salah satu naluri. Misalnya saja naluri melestarikan keturunan. Dan naluri ini yang paling banyak digandrungi. Penampakkan dari naluri ini salah satunya adalah adanya rasa mencintai lawan jenis. ‘Love story’ lah. Saat dia datang merambah hati, maka hati mulai nggak tenang, gelisah pun melanda insan yang sedang dilanda asmara. Bila nggak dipenuhi? Wah nggak bakalan deh kamu ‘tamat riwayat’. Paling-paling rasa resah dan gelisah terus melanda. Tidak lebih. But, sebenarnya kegelisahan ini bisa dihindari dengan melakukan aktivitas yang dapat melupakan masalah ini. Tul nggak?
Lantas hubungannya dengan judul tulisan ini? Sabar sobat! Seperti yang telah kami sampaikan di awal bahwa naluri dan kebutuhan hidup ini memerlukan adanya pemenuhan. Itu pasti. Akan tetapi yang memberdakan antara seseorang dengan yang lain adalah, dengan apa dia memenuhi potensi hidupnya tadi. Sebagai contoh, saat lapar datang. Yang membedakan adalah apa yang dia makan, bukan rasa lapar itu sendiri. Inilah yang menjadi pokok bahasan judul ini.
“Manusia-manusia langit” adalah mereka yang menjadikan potensi yang dia miliki selalu terikat dengan aturan Allah. Kebutuhan hidupnya hanya dia penuhi dengan sesuatu yang sesuai dengan aturan Allah. Begitu juga dengan naluri. Seorang manusia langit tidak akan menyalurkan nalurinya dengan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Rabbnya. Karena mereka memahami bahwa hidup ini bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup dan naluri saja. Lebih dari itu manusia-manusia langit memahami bahwa hidup adalah untuk hidup kembali. Hidup bukan tujuan, tapi tahap menuju kehidupan lain yang abadi. Makanya dia senantiasa menjadikan hidupnya selalu sesuai dengan ajaran Allah, Sang Pencipta.
Manusia-manusia langit bukanlah ilusi. Dia bukan juga hayalan imajinasi, yang tidak bisa diwujudkan. Manusia-manusia langit juga seperti kita. Mereka seperti kita yang perlu makan saat lapar; perlu minum kalau haus. Mereka juga sama-sama seperti kita yang takut akan murkaNya, yang punya naluri mempertahankan diri, yang mencintai kekasihnya saat naluri ‘nau (melestarikan keturunan) hadir. Mereka sama seperti kita. Bedanya? Mereka adalah sosok istimewa karena selalu membaktikan dirinya hanya untuk mendapatkan ridlo Allah. Nggak seperti kita yang sering bermaksiat dengan melanggar aturanNya, yang sering lalai dalam ibadah kepadaNya.
Manusia-manusia langit nggak pernah bersikap ibarat ‘bunglon’. Saat berhubungan dengan Allah, dia membawa Islam. Tapi saat bergaul di masyarakat dia menanggalkan Islam. Dia tidak pernah memisahkan kehidupannya, walau sebentar, dari aturan Allah. Manusia-manusia langit selalu menyandarkan akitivitasnya dengan perintah dan larangan Allah.
Mereka nggak seperti kita yang saat diseru untuk duduk terpisah saat kuliah berkelit dengan alasan kalau ruang kelas bukanlah masjid yang harus ada hijab (pembatas). Nggak seperti kita, yang saat diberitahukan bahwa pacaran itu dilarang dalam Islam, berdalih nggak apa-apa selama masih dalam batas-batas yang wajar. Walau nggak jelas juga batas-batas tersebut itu apa dan bagaimana. Apakah batasan yang dia buat sendiri ataukah batasan yang dibuat oleh Sang Pencipta. Tapi yang jelas batasanNya itu telah jelas ada di Kitab berisi firman-firmanNya dan juga melalui sabda-sabda kekasihNya. Tinggal kita mau mencari dan menerapkannya atau “keukeuh” dengan batasan kita. “Yang penting enaak”. Manusia langit juga adalah manusia-manusia yang sopan santun baik dalam perkataan, perbuatan dan pakaian. Mereka menjadikan auratnya sebagai hal yang paling berharga dari dirinya, yang tidak boleh semua orang bebas melihat apalagi menyentuhnya.
Manusia langit adalah sosok manusia yang ideal.  Manusia-manusia yang bakal selalu mencintai dan dicintaiNya. Nah, trus kumaha nich dengan kita??  Ya, pilihan tinggal kembali kepada kita, apakah kita adalah kita seperti saat ini, atau kita adalah pemimpi manusia-manusia langit yang akan selalu mimpi. Atau kita adalah bagian dari manusia-manusia langit tersebut.  Untuk menjadi manusia langit tidak perlu pake kampanye, apalagi pake “money politic”.   Manusia-manusia langit bukan puitisi tapi....  

1 komentar: